BREAKING NEWS

Dari Limbah Kulit Buah MBG, Siswa MAN 1 Medan Raih Emas di Jepang



MEDAN – Berawal dari tumpukan kulit buah sisa Program Makan Bergizi Gratis yang biasanya berakhir di tempat sampah, sekelompok siswa-siswi MAN 1 Medan justru mengubahnya menjadi karya yang mendunia. 

Inovasi mereka berupa batu bata ramah lingkungan berbahan dasar limbah kulit buah berhasil membawa pulang medali emas dari ajang bergengsi _Japan Design and Invention Expo 2026_ di Tokyo, Jepang.


Ide ini muncul dari keprihatinan sederhana. Setiap hari, dapur MBG di lingkungan sekolah menghasilkan limbah kulit buah dalam jumlah besar: kulit pisang, jeruk, semangka, dan buah lainnya. Daripada dibuang, para siswa bertanya: “Bisa diapakan lagi ya?”

Pertanyaan itulah yang kemudian menjadi proyek penelitian tim MAN 1 Medan selama berbulan-bulan.

Prosesnya tidak mudah. Tim harus melewati puluhan kali uji coba dan beberapa kali gagal. Komposisi yang terlalu rapuh, bata yang retak saat dibakar, hingga tekstur yang tidak merata menjadi tantangan.

“Kami sempat hampir menyerah. Tapi setiap gagal, kami catat, kami evaluasi, lalu coba lagi,” ujar salah satu anggota tim.

Hingga akhirnya mereka menemukan formula yang pas. Kulit buah dikumpulkan, dicuci bersih, lalu dikeringkan. Setelah kering, kulit buah dihaluskan menjadi bubuk. Bubuk ini kemudian dicampur dengan tanah liat sebagai bahan pengikat, dicetak, dan dibakar pada suhu tertentu hingga menjadi batu bata yang kokoh dan siap diuji.

Hasilnya mengejutkan. Batu bata dari limbah kulit buah ini tidak hanya lebih ringan, tapi juga memiliki daya serap air yang lebih baik dan jejak karbon yang lebih rendah dibanding batu bata konvensional.

Di _Japan Design and Invention Expo 2026_, tim MAN 1 Medan bersaing dengan ratusan inovator muda dari berbagai negara. Juri menilai bukan hanya dari sisi teknis, tetapi juga dari dampak lingkungan dan kebermanfaatan bagi masyarakat.

Presentasi tim tentang bagaimana mereka memanfaatkan limbah program pemerintah menjadi material bangunan berkelanjutan akhirnya memikat dewan juri. Medali emas pun disematkan untuk Indonesia.

“Ini bukan hanya kemenangan untuk kami, tapi untuk semua anak Indonesia. Kami membuktikan ide besar bisa lahir dari masalah kecil di sekitar kita,” kata perwakilan tim saat menerima penghargaan.

Prestasi ini menjadi cerminan bahwa isu lingkungan dan ketahanan pangan bisa dijawab dengan kreativitas anak bangsa. Limbah MBG yang tadinya dianggap masalah, kini berpeluang menjadi solusi material bangunan masa depan.

Kepala MAN 1 Medan menyampaikan rasa bangganya. “Anak-anak kami belajar bahwa inovasi lahir dari observasi dan kegigihan. Mereka melihat sampah, tapi yang mereka lihat adalah peluang.”

Ke depan, tim berencana mengembangkan inovasi ini agar bisa diproduksi lebih massal dan diadopsi oleh masyarakat, terutama di daerah yang memiliki banyak limbah organik dari program MBG.

Kisah siswa-siswi MAN 1 Medan ini mengingatkan kita: perubahan besar sering kali dimulai dari hal yang paling sederhana. Dari kulit buah yang terbuang, lahir harapan baru untuk lingkungan yang lebih baik.

Madrasah Aliyah Negeri 1 Medan merupakan salah satu madrasah unggulan di Sumatera Utara yang aktif mendorong siswa dalam bidang riset, inovasi, dan kompetisi sains tingkat nasional maupun internasional.

Sumber : Humas MAN 1 Medan