BREAKING NEWS

Tragedi Rajamerahe 1949: Kisah Gugurnya Panglima Aman Dimot dari Gayo di Tanah Karo



KARO– Nama Aman Dimot atau Abu Bakar tercatat sebagai salah satu pejuang Gayo yang gugur dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. 

Ia dikenal masyarakat sebagai panglima yang gigih melawan pasukan Belanda di wilayah Tanah Karo, Sumatera Utara, hingga menghembuskan napas terakhir pada 30 Juli 1949.

Peristiwa itu terjadi di Rajamerahe, Desa Sukaramai, Kecamatan Berastagi. Saat itu pasukan gabungan Barisan Gerilya Rakyat (Bagura) dan Mujahidin asal Aceh Tengah yang dipimpin Teungku Ilyas Leube berjumlah sekitar 45 orang melakukan pengintaian terhadap konvoi Belanda yang terdiri dari 25 truk dan 2 tank.

Menurut catatan pejuang yang selamat, pada siang hari pasukan melakukan serangan mendadak. Aman Dimot yang berada di garis depan memimpin penyerangan menggunakan kelewang dan senapan. 

Saat situasi semakin terdesak karena kalah jumlah dan persenjataan, Komandan Ilyas Leube memerintahkan mundur. Aman Dimot memilih bertahan bersama dua rekannya, Pang Ali Rema dan Pang Edem. Dalam kontak tembak jarak dekat, Pang Ali Rema dan Pang Edem gugur. Aman Dimot tetap melawan seorang diri hingga akhirnya tertangkap pasukan Belanda dalam keadaan kelelahan.


Versi lisan yang berkembang di masyarakat menyebutkan, karena tidak dapat dilumpuhkan dengan tembakan, serdadu Belanda melakukan tindakan keji terhadap Aman Dimot. Tubuhnya kemudian dilindas tank Belanda hingga meninggal dunia.

Aman Dimot syahid pada 30 Juli 1949. Jenazahnya awalnya dimakamkan di Rajamerahe. Kini kerangkanya telah dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Kabanjahe, Sumatera Utara.

Hingga kini masyarakat Aceh, khususnya dataran tinggi Gayo, terus mengusulkan agar Aman Dimot dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. 

Kisahnya menjadi simbol keberanian rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan, meski harus berhadapan dengan kekuatan militer yang jauh lebih besar.

Perjuangan Aman Dimot mengingatkan bahwa kemerdekaan Indonesia ditebus dengan pengorbanan besar para pejuang daerah yang namanya belum semua tercatat dalam sejarah resmi.

Sumber:  Catatan sejarah lisan pejuang Bagura.