BREAKING NEWS

Tekan Perundungan, Kemenag-Pemprov Jateng dan Unicef Mulai Garap Program Pesantren Ramah Anak




SUARA BERSATU SEMARANG.Pemerintah Provinsi Jawa Tengah mendukung inisiasi Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jateng yang bekerjasama United Nations Children's Fund (Unicef), dan Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Klaten, serta lintas pihak dalam memulai program Pondok Pesantren Ramah Anak.

Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin, mengatakan, program yang menyasar lembaga pendidikan pondok pesantren itu menjadi penting untuk menjadikan provinsi zero bullying (enol perundungan). Artinya pondok pesantren akan menjadi lembaga pendidikan ramah anak, perempuan, dan difabel.  

Terlebih, kata dia, data dari Kanwil Kemenag Jateng menyebut angka kekerasan pada anak di Jateng masih tinggi. Mencapai 1.349 anak pada 2024. Sementara periode Januari-Juli 2025 mencapai 867 kasus. 

"Memang kita dituntut untuk zero bullying di Jawa Tengah, di sekolah-sekolah. Termasuk ada di pondok pesantren. Alhamdulillah terima kasih kepada Kanwil Kemenag Jateng yang sudah membentuk Satgas untuk penanganan kekerasan di pondok pesantren," katanya dalam Halaqah Pesantren Ramah Anak, Pesantren Aman dan Sehat, di Asrama Haji Transit Komplek Islamic Center, Kota Semarang, Rabu, 27 Agustus 2025.
Karena tim sudah dibentuk oleh Kanwil Kemenag Jateng, kata Taj Yasin, maka Pemprov Jateng tinggal bekerjasama berkolaborasi untuk menyosialisasikan program itu di pondok-pondok pesantren yang ada di wilayah pemerintahannya. Tujuannya supaya mencegah potensi kekerasan yang terjadi di lingkungan pondok pesantren.

Taj Yasin mengatakan, program itu menjadi penting, melihat jumlah pondok pesantren di Jateng yang sudah terdata oleh Kanwil Kemenag Jateng mencapai 5.364 lembaga pendidikan. Adapun jumlah santri terdata mencapai 520.014 orang, terdiri 254 224 laki-laki, dan 265.790 perempuan.

Ditekankan Taj Yasin, kalangan pondok pesantren juga haruslah transparan kepada publik, terlebih bila menemui tindakan perundungan atau yang melanggar hukum. Transparansi akan menjadikan meningkatnya kepercayaan publik akan lembaga pendidikan pondok pesantren.

Sosialisasi lainnya, kata sosok yang akrab disapa Gus Yasin itu, yakni untuk menekan angka pernikahan anak. Masih merujuk data dari Kanwil Kemenag Jateng, sebanyak 7.903 anak menikah di bawah usia 19 tahun pada 2024. Kabupaten Gobogan menjadi daerah yang angkanya tertinggi.

Hal itu juga menjadi sangat serius, dikarenakan usia anak-anak yang belum matang membuat mereka belum siap, baik secara organ reproduksi maupun mentalitasnya. 

"Nah, ini menjadi khusus kepada pondok-pondok pesantren. Memang di pondok pesantren tidak dilarang, bila merujuk hukum fikih. Akan tetapi saat ini harus dikoordinasikan dulu dengan ahli-ahli," ucapnya.

Kepala Kanwil Kemenag Jateng, Saiful Mujab, mengatakan, satgas sudah dikukuhkan oleh Wakil Gubernur Jateng, Taj Yasin. Itu menjadi jalan dalam membuat program kerja untuk ke pondok-pondok dan lain sebagainya termasuk nanti di tingkat kabupaten/kota di Jateng.

"Dan ini nanti kita terus bersinergi ya dengan pemerintah daerah untuk terus bagaimana nanti pondok pesantren kita kawal dengan baik," katanya.

Kepala Perwakilan Unicef untuk Wilayah Jawa, Arie Kurnia, mengatakan, sasaran edukasi dan sosialisasi program Pondok Pesantren Ramah Anak, ditujukan kepada tenaga pendidik, santri, hingga orang tua atau.

"Nah, kalau dari sistem Kemenag sudah ada surat dari di Menteri Agama yang menunjukkan petunjuk teknis bagaimana menjadi pesantren yang ramah anak. Jadi kita berharap itu menjadi budaya ya seperti Kota Layak Anak, seperti Sekolah Ramah Anak," katanya. 

Pihaknya mengapresiasi Pemprov Jateng yangvkomitmen dalam perwujudan program itu. Diharapkan akan semakin banyak Pondok Pesantren yang mendeklarasikan diri menjadi Ramah Anak.

Selanjutnya dalam mendukung itu, perlu menjadikan Pondok Pesantren yang transparan, mewadahi para santri menjadi anak yang berprestasi pada bidangnya. Dengan begitu mereka juga bisa tampil pafa forum-forum atau panggung dunia seperti menjadi duta anti kekerasan, dan sebagainya.

Dikatakannya, Pemerintah Indonesia meminta kepada Unicef untuk salah satu metode atau bahan yang diajarkan yakni berhubungan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Salah satunya tentang perdamaian, termasuk anti bullying, anti kekerasan, toleransi dan lain-lain. 

"Jadi nanti tahun 2026 kita berharap ada santri yang hebat terpilih dari Jawa Tengah mewakili pondok pesantren masuk ke forum anak dunia. Dia akan menjadi semacam peacemaker, duta perdamaian bagi dunia tentunya," katanya. 

Editor : Rudiono 
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image