BREAKING NEWS

Pemerintah Anugerahi Gelar Pahlawan Nasional kepada Kapitan Pattimura, Simbol Perlawanan Maluku 1817






AMBON- Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Thomas Matulessy alias Kapitan Pattimura pada 6 November 1973. Pengakuan itu diberikan atas perannya memimpin perlawanan rakyat Maluku melawan kolonial Belanda pada 1817.

Kapitan Pattimura dieksekusi Belanda pada 16 Desember 1817 di lapangan depan Benteng Victoria, Ambon. Bersama tiga pemimpin lainnya, Anthoni Rhebok, Said Perintah, dan Philip Latumahina, ia digantung setelah tertangkap dalam operasi besar-besaran Belanda pada November 1817.

“Belanda menjatuhkan hukuman tambahan dengan membiarkan jasad Pattimura tergantung di tiang gantungan untuk dipertontonkan kepada rakyat. Tujuannya untuk mematahkan semangat perlawanan,” kata sejarawan berdasarkan catatan arsip kolonial.

Pattimura lahir di Haria, Saparua, Maluku Tengah, pada 8 Juni 1783. Sebelum memimpin perlawanan, ia pernah bergabung dengan militer Inggris saat Inggris menguasai Maluku dan menyandang pangkat Sersan. 

Perlawanan meletus setelah Belanda kembali menguasai Maluku dari Inggris pada 25 Maret 1817. Pada 7 Mei 1817, pertemuan tokoh perlawanan di Baileu Negeri Haria, Saparua, menetapkan Thomas Matulessy sebagai Kapitan Besar melalui upacara adat.

Delapan hari kemudian, 15 Mei 1817, pasukan Pattimura menyerbu dan merebut Benteng Duurstede di Saparua. Residen Saparua, Johannes Rudolf van den Berg, tewas dalam penyerangan tersebut. Perlawanan kemudian menyebar ke Nusa Laut, Hitu, dan Pelau.

Perlawanan melemah setelah Raja Booi dari Saparua membocorkan posisi Pattimura kepada Belanda. Kapitan Pattimura akhirnya ditangkap dan dijatuhi vonis mati oleh pengadilan kolonial.

Nama Kapitan Pattimura kini diabadikan sebagai nama Universitas Pattimura, Bandara Pattimura di Ambon, dan sejumlah ruas jalan di Indonesia. Wajahnya juga pernah tercetak pada uang kertas Rp1.000 seri lama.

Editor: RUDIONO 
.