BREAKING NEWS

Mengenal Maraden Panggabean, Jenderal yang Pimpin Pemakaman Militer Bung Karno



JAKARTA – Jenderal TNI (Purn.) Maraden Saur Halomoan Panggabean dikenal sebagai salah satu tokoh militer berpengaruh pada masa Orde Baru.

 Selain pernah menjabat Menteri Pertahanan dan Keamanan sekaligus Panglima ABRI, ia juga dipercaya memimpin upacara pemakaman militer Presiden Soekarno di Blitar pada 1970.

Peran tersebut menempatkan Maraden pada posisi penting di tengah transisi politik yang sensitif pada masa itu. Kiprahnya di militer dan pemerintahan berlangsung selama hampir lima dekade.

Lahir di Lembah Silindung

Maraden Panggabean lahir pada 29 Juni 1922 di Hutatoruan, Lembah Silindung, Tarutung, Tapanuli Utara. Ia anak kedua dari sepuluh bersaudara pasangan Marhusa Panggabean dan Katharina boru Panjaitan.

Masa kecilnya diwarnai pendidikan di sekolah Zending dan dinamika kehidupan sebagai anak kepala negeri. Ketika ayahnya menjabat Kepala Negeri Pansur Napitu pada 1930, Maraden sempat pindah sekolah ke Schakelschool di Simorangkir. Tempaan itu membentuk karakter disiplin dan tangguh pada dirinya.

Pada 20 Agustus 1950, ia menikah dengan Meida Saimima Matiur Tambunan di Gereja HKBP Sibolga.

Karier Militer dari Revolusi hingga Puncak ABRI

Semangat kemerdekaan 1945 membawa Maraden terjun ke medan juang. Ia bergabung dengan Laskar Pesindo sebagai komandan pasukan, lalu masuk Tentara Republik Indonesia dengan pangkat Kapten di Tapanuli Utara.

Kariernya menanjak cepat. Ia memimpin sejumlah satuan di berbagai daerah, mulai dari Komandan Batalyon 104/Waringin hingga Panglima Komando Antar Daerah Kalimantan saat konfrontasi.

Puncak karier militernya terjadi pada 1966-1978. Ia pernah menjabat Wakil Panglima Angkatan Darat, Panglima Angkatan Darat, Panglima Kopkamtib, hingga Menteri Pertahanan dan Keamanan/Panglima ABRI.

Setelah purna tugas militer, Maraden beralih ke jalur politik dan pemerintahan. Ia menjabat Menteri Koordinator Politik dan Keamanan pada 1978-1983, serta Ketua Dewan Pertimbangan Agung selama dua periode hingga 1993.

Tak Lupa Kampung Halaman

Di luar tugas negara, Maraden dikenal aktif dalam kegiatan sosial. Ia menginisiasi Yayasan Bina Bona Pasogit untuk membantu pemulihan pasca gempa di Tarutung dan mendukung masyarakat Batak yang terdampak bencana.

Jenderal Maraden meninggal dunia pada 28 Mei 2000 di RSCM Jakarta akibat komplikasi stroke. Jenazahnya dimakamkan dengan upacara militer di Taman Makam Pahlawan Kalibata setelah melalui upacara adat Batak dan pemberkatan gereja di Jakarta Pusat.

 Sumber: Wikipedia

-