MAKAM JOKO TINGKIR DINILAI TIDAK TERAWAT, WARGA HARAP ADA PERHATIAN LEBIH
Font Terkecil
Font Terbesar
SRAGEN– Kondisi makam Joko Tingkir di Sragen dinilai warga kurang terawat. Lokasi yang menjadi situs sejarah sekaligus tujuan ziarah itu diharapkan mendapat perhatian lebih agar layak dikunjungi.
Joko Tingkir dikenal sebagai tokoh penting dalam sejarah Jawa. Ia disebut sebagai pendiri Kesultanan Pajang dan bergelar Sultan Hadiwijaya.
Dalam cerita tutur masyarakat, nama asli Joko Tingkir adalah Mas Karèbèt. Ia lahir pada 18 Jumadil Akhir tahun Dal mangsa VIII, menjelang subuh. Julukan “Karèbèt” muncul karena saat bayi, suara wayang beber yang dibawakan Ki Ageng Tingkir “kemebret” tertiup angin.
Mas Karèbèt adalah putra Ki Ageng Pengging dan Ki Ageng Kebo Kenongo. Kedua tokoh ini disebut sebagai murid Syekh Siti Jenar. Setelah ayahnya, Ki Ageng Pengging, dihukum mati atas tuduhan memberontak terhadap Kerajaan Demak, Mas Karèbèt diangkat anak oleh Nyai Ageng Tingkir, janda Ki Ageng Tingkir. Sejak itu ia lebih dikenal sebagai Jaka Tingkir.
Masa remaja Jaka Tingkir dihabiskan untuk bertapa, berlatih bela diri, dan mempelajari ilmu kesaktian. Ia berguru kepada ayah dan kakeknya, serta kepada Sunan Kalijaga dan Ki Ageng Sela. Dari Ki Ageng Sela, ia dipersaudarakan dengan Ki Juru Martani, Ki Ageng Pamanahan, dan Ki Panjawi.
Kisah Joko Tingkir berkembang secara lisan dan menjadi bagian dari babad Tanah Jawa. Meski kebenarannya masuk ranah sejarah dan legenda, makamnya tetap menjadi tempat ziarah bagi masyarakat.
Warga berharap pemerintah daerah dan pihak terkait dapat melakukan perawatan rutin. Dengan begitu, situs ini bisa terjaga dan memberi kenyamanan bagi peziarah yang datang.
Editor: Rudiono