Kisah Inspiratif Danyon Kopassus Asal Malang_
Font Terkecil
Font Terbesar
MALANG – Seragam baret merah dan pangkat mayor di pundaknya menjadi bukti nyata bahwa kemiskinan bukan batas masa depan. Mayor Infanteri Imam Buchori, kini menjabat Komandan Batalyon 14 Grup 1 Kopassus, dulunya adalah anak seorang penarik becak di Malang, Jawa Timur.
Kehidupan masa kecil Imam jauh dari kata mudah. Ayahnya mengayuh becak setiap hari demi sesuap nasi, sementara keluarga sering berpindah tempat tinggal. Justru keterbatasan itulah yang menempa mentalnya menjadi baja. Sejak kelas 5 SD, ia bertekad menjadi loper koran untuk membantu ekonomi keluarga. Tekad dan prestasi akademik mengantarkannya masuk Akademi Militer dan lulus sebagai lulusan terbaik dengan penghargaan Adhi Makayasa.
Kisah Imam membuktikan bahwa mimpi tidak memandang kasta. Dari anak penarik becak, ia kini memimpin salah satu batalyon di satuan elit Kopassus. Perjalanan hidupnya menjadi pengingat bahwa dengan doa orang tua dan kerja keras, takdir bisa diubah.
"Kemiskinan boleh menjadi latar belakang, tetapi tidak boleh menjadi batas masa depan," ujarnya.
*Kehidupan Masa Kecil yang Keras*
Hidup dalam keterbatasan tidak membuat Imam kecil berkecil hati. Ia memahami kondisi orang tuanya dan membalas kerja keras ayahnya dengan deretan prestasi serta beasiswa.
*Puncak Prestasi di Militer*
Dedikasinya di dunia militer membawanya pada amanah besar sebagai Danyon 14 Grup 1 Kopassus. Kini ia menjadi bukti nyata bahwa anak dari keluarga sederhana pun bisa berdiri tegak memimpin pasukan elit penjaga kedaulatan negara. ( Red)